Dalam
sebuah keluarga kecil yang hanya terdiri dari sepasang suami istri dan satu
orang anak perempuan yang masih berusia tujuh tahun, sebutlah ia Aisyah. Sebuah
keluarga yang selalu terlihat harmonis dan selalu dihiasi dengan bahagia.
Namun, siapa sangka, sang ibu selalu menangis setiap malam saat Aisyah sedang
tertidur. Ia tidak tega melihat anak kesayangannya itu harus menghadapi yang
seperti ini. Sejak lahir, Aisyah hanya memiliki satu telinga. Entah apa yang
menyebabkannya mengalami seperti itu.
“Akan
sampai kapan ibu terus menagis seperti ini?” ayah tiba-tiba datang dan mengelus
pundak ibu agar segera beranjak ke kamar, kemudian membiarkan Aisyah tertidur
di kamarnya.
“Ibu
ingin operasi saja, yah.”
“Sudahlah,
pikirkan itu nanti saja. Sekarang sudah terlalu malam, lebih baik kita tidur.”
Akhirnya ayah dan ibu
meninggalkan Aisyah di kamarnya.
Pagi hari
adalah momen yang selalu menjadi bagian paling disukai Aisyah, ayah maupun ibu,
karena pada saat itulah mereka benar-benar bisa merasakan rasanya sebuah
kelusarga kecil yang bahagia. Ayah
selalu pulang kerja di malam hari. Sedangkan hari minggu pun belum tentu ayah
ada di rumah. Aisyah selalu menghabiskan waktunya bersama ibu. Terkadang Aisyah
pergi ke rumah tante Salma, disana Aisyah bisa bermain dengan kedua sepupunya
dan seorang temannya yang juga tetangganya.
Siang hari,
akhirnya tiba waktunya ibu menjemput Aisyah. Dalam hatinya, ibu selalu berharap
ia tak akan lagi melihat anaknya menangis. Entah kapan terakhir kali ia melihat
Aisyah tertawa atau mungkin tersenyum melihatnya datang menjemput. Hampi setiap
kali ibu datang ke sekolah, ia selalu mendapati anaknya dalam keadaan menangis
ataupun bersedih.
“Aisyah, itu
ibumu datang.” Salah seorang teman Aisyah berteriak dan berlari menghampiri
ibunya Aisyah.
Baru saja ibu sampai di depan
gerbang sekolah, tangan ibu sudah ditarik oleh Putri, teman dekat Aisyah di
kelas. Melihat Putri berlari menghampirinya, ibu sudah menebak apa yang telah
terjadi. Setiba di kelas, anak-anak di kelas yang semula rame menghina Aisyah
kini semua diam, bahkan ada yang berlari keluar kelas hingga menyenggol ibu dan
menjatuhkan tas yang dibawa ibu.
“Aisyah,
ayo kita pulang, nak. Ibu sudah masak sayur bayam kesukaanmu.”
Melihat Aisyah yang menangis,
hati ibu pun menangis. Namun ibu tak pernah menunjukkannya di depan Aisyah. Ia
tak ingin Aisyah melihat itu. Di perjalanan pulang pun, Aisyah hanya menahan tangisnya
karena tak ingin melihat ibunya sedih dengan tangisannya.
“Bu,
kenapa telinga Aisyah cuma satu? Sedangkan telinga Putri ada dua. Sma dengan
ibu dan ayah. Telinga bu guru juga ada dua.” Satu pertanyaan yang paling
ditakuti dalam hidup ibu akhirnya terucap sendiri oleh Aisyah.
“Karena
Aisyah adalah anak yang berbeda. Aisyah anak ibu yang hebat, dan Allah sangat
sayang dengan Aisyah.”
“Benarkah, bu?”
tangisan Aisyah mulai reda.
“Tentu saja. Bersabarlah
Aisyah, ibu janji akan membuatmu tidak seperti ini lagi. Jangan menangis lagi ya!”
“Ibu
janji? Aku malu sekali, bu. Selalu dihina teman-temanku.”
“Iya,
sayang, ibu janji. Sekarang, ibu ingin melihat kamu tersenyum. Senyumlah!”
“Iya,
bu.”
Satu minggu kemudian, tepat pada
hari ulang tahun Aisyah yang ke-6. Di sebuah rumah sakit besar di Jakarta,
Aisyah masih belum sadar diri. Ibu masih setia menunggu di kamar pasien, berbaring
di samping Aisyah. Ayah duduk di sebelah ranjang pasien, tangannya membelai
rambut Aisyah.
“Ibu
tepati janji ibu, nak.”
“Kau
adalah istri dan ibu terbaik, untukku dan Aisyah. Ia akan sangat bangga telah dilahirkan
dari rahim seorang wanita sepertimu.”
Ibu hanya tersenyum. Dan tiba-tiba...
“Ibu,
Ayah. Telingaku kok terasa ngilu. Aku merasa aneh, bu.” Aisyah terbangun. Ia meraba-raba
kepalanya di sebelah kanan. Ada perban yang melingkari kepalanya.
“ Ini apa bu? Ibu sakit? Kok ibu pakai baju pasien
seperti Aisyah? Ibu sakit apa?” pertanyaan demi pertanyaan
diucapkan Aisyah saat ia terbangun.
“Ibu
baik-baik saja, nak. Ibu hanya ingin menepati janji ibu sama Aisyah.”
“Janji?”
“Iya,
ibu janji tidak akan membuatmu menangis lagi di sekolah karena ejekan
teman-temanmu.”
Ibu menjawab pertanyaan Aisyah
dengan lembut, sambil perlahan membuka jilbabnya. Aisyah melihat di kepala ibu ada perban yang mengelilinginya. sama seperti Aisyah. Telinga
kanan yang saat ini dimiliki Aisyah adalah telinga ibunya. Kini, ibulah yang
hanya memiliki satu teling. Bukan lagi Aisyah. Ibu memberikan telinganya
untuk Aisyah.
Aisyah
menangis dan memeluk ibunya dengan erat. Begitu pun dengan ibu.
“Demi
Allah, Aisyah sangat sayang sama ibu.”
“Terimakasih,
Aisyah. Ibu juga sayang Aisyah dan keluarga kita.”
Tentu saja ayah tak bisa
menyembunyikan airmatanya melihat dua perempuan yang paling disayanginya itu saling
mengungkapkan kasih sayang. Ayahpun memeluk ibu dan Aisyah.
*Kasih ibu tak terhingga
sepanjang masa*