red_blog_771.zip - ZIP archive, unpacked size 797,066 bytes

Minggu, 30 November 2014

Telinga untuk Aisyah



                Dalam sebuah keluarga kecil yang hanya terdiri dari sepasang suami istri dan satu orang anak perempuan yang masih berusia tujuh tahun, sebutlah ia Aisyah. Sebuah keluarga yang selalu terlihat harmonis dan selalu dihiasi dengan bahagia. Namun, siapa sangka, sang ibu selalu menangis setiap malam saat Aisyah sedang tertidur. Ia tidak tega melihat anak kesayangannya itu harus menghadapi yang seperti ini. Sejak lahir, Aisyah hanya memiliki satu telinga. Entah apa yang menyebabkannya mengalami seperti itu.

                “Akan sampai kapan ibu terus menagis seperti ini?” ayah tiba-tiba datang dan mengelus pundak ibu agar segera beranjak ke kamar, kemudian membiarkan Aisyah tertidur di kamarnya.

                “Ibu ingin operasi saja, yah.”

                “Sudahlah, pikirkan itu nanti saja. Sekarang sudah terlalu malam, lebih baik kita tidur.”

Akhirnya ayah dan ibu meninggalkan Aisyah di kamarnya.

Pagi hari adalah momen yang selalu menjadi bagian paling disukai Aisyah, ayah maupun ibu, karena pada saat itulah mereka benar-benar bisa merasakan rasanya sebuah kelusarga kecil yang  bahagia. Ayah selalu pulang kerja di malam hari. Sedangkan hari minggu pun belum tentu ayah ada di rumah. Aisyah selalu menghabiskan waktunya bersama ibu. Terkadang Aisyah pergi ke rumah tante Salma, disana Aisyah bisa bermain dengan kedua sepupunya dan seorang temannya yang juga tetangganya.

Siang hari, akhirnya tiba waktunya ibu menjemput Aisyah. Dalam hatinya, ibu selalu berharap ia tak akan lagi melihat anaknya menangis. Entah kapan terakhir kali ia melihat Aisyah tertawa atau mungkin tersenyum melihatnya datang menjemput. Hampi setiap kali ibu datang ke sekolah, ia selalu mendapati anaknya dalam keadaan menangis ataupun bersedih.

“Aisyah, itu ibumu datang.” Salah seorang teman Aisyah berteriak dan berlari menghampiri ibunya Aisyah.

Baru saja ibu sampai di depan gerbang sekolah, tangan ibu sudah ditarik oleh Putri, teman dekat Aisyah di kelas. Melihat Putri berlari menghampirinya, ibu sudah menebak apa yang telah terjadi. Setiba di kelas, anak-anak di kelas yang semula rame menghina Aisyah kini semua diam, bahkan ada yang berlari keluar kelas hingga menyenggol ibu dan menjatuhkan tas yang dibawa ibu.

                “Aisyah, ayo kita pulang, nak. Ibu sudah masak sayur bayam kesukaanmu.”

Melihat Aisyah yang menangis, hati ibu pun menangis. Namun ibu tak pernah menunjukkannya di depan Aisyah. Ia tak ingin Aisyah melihat itu. Di perjalanan pulang pun, Aisyah hanya menahan tangisnya karena tak ingin melihat ibunya sedih dengan tangisannya.

                “Bu, kenapa telinga Aisyah cuma satu? Sedangkan telinga Putri ada dua. Sma dengan ibu dan ayah. Telinga bu guru juga ada dua.” Satu pertanyaan yang paling ditakuti dalam hidup ibu akhirnya terucap sendiri oleh Aisyah.

                “Karena Aisyah adalah anak yang berbeda. Aisyah anak ibu yang hebat, dan Allah sangat sayang dengan Aisyah.”

“Benarkah, bu?” tangisan Aisyah mulai reda.

“Tentu saja. Bersabarlah Aisyah, ibu janji akan membuatmu tidak seperti ini lagi. Jangan menangis lagi ya!”

                “Ibu janji? Aku malu sekali, bu. Selalu dihina teman-temanku.”

                “Iya, sayang, ibu janji. Sekarang, ibu ingin melihat kamu tersenyum. Senyumlah!”

                “Iya, bu.”

Satu minggu kemudian, tepat pada hari ulang tahun Aisyah yang ke-6. Di sebuah rumah sakit besar di Jakarta, Aisyah masih belum sadar diri. Ibu masih setia menunggu di kamar pasien, berbaring di samping Aisyah. Ayah duduk di sebelah ranjang pasien, tangannya membelai rambut Aisyah.

                “Ibu tepati janji ibu, nak.”

                “Kau adalah istri dan ibu terbaik, untukku dan Aisyah. Ia akan sangat bangga telah dilahirkan dari rahim seorang wanita sepertimu.”

Ibu hanya tersenyum. Dan tiba-tiba...

                “Ibu, Ayah. Telingaku kok terasa ngilu. Aku merasa aneh, bu.” Aisyah terbangun. Ia meraba-raba kepalanya di sebelah kanan. Ada perban yang melingkari kepalanya.

                “ Ini apa bu? Ibu sakit? Kok ibu pakai baju pasien seperti Aisyah? Ibu sakit apa?” pertanyaan demi pertanyaan diucapkan Aisyah saat ia terbangun.

         “Ibu baik-baik saja, nak. Ibu hanya ingin menepati janji ibu sama Aisyah.”

         “Janji?”

         “Iya, ibu janji tidak akan membuatmu menangis lagi di sekolah karena ejekan teman-temanmu.”

Ibu menjawab pertanyaan Aisyah dengan lembut, sambil perlahan membuka jilbabnya. Aisyah melihat di kepala ibu ada perban yang mengelilinginya. sama seperti Aisyah. Telinga kanan yang saat ini dimiliki Aisyah adalah telinga ibunya. Kini, ibulah yang hanya memiliki satu teling. Bukan lagi Aisyah. Ibu memberikan telinganya untuk Aisyah.

               Aisyah menangis dan memeluk ibunya dengan erat. Begitu pun dengan ibu.

                “Demi Allah, Aisyah sangat sayang sama ibu.”

                “Terimakasih, Aisyah. Ibu juga sayang Aisyah dan keluarga kita.”

Tentu saja ayah tak bisa menyembunyikan airmatanya melihat dua perempuan yang paling disayanginya itu saling mengungkapkan kasih sayang. Ayahpun memeluk ibu dan Aisyah.



*Kasih ibu tak terhingga sepanjang masa*

Selasa, 11 November 2014

CERITA 25

Saat-saat semua orang tertidur
Aku tak sanggup lelap dalam ketakutan
Menatap matamu yang memandang kosong
Mendengar suaramu merintih kesakitan

Bayangan-bayangan buruk memenuhi otakku
Saat tangan dinginmu menyela-nyela jemariku
Tak terbendung lagi air mataku
Tak satupun kata mampu kuutarakan

Seperti sebuah teater
Kau telah sampai pada bagian benang merahmu
Seperti sebuah cerpen
Harus kau temui cerita akhirmu
Tak lagi kau lanjutkan kisahmu
Karena tinta hidupmu telah habis
Ya.. harus kau tinggalkan kisahmu dengan dunia yang fana

Kata-kata penuh arti terlantun darimu
Dengan lambat kau ucapkan kalimat-kalimat suci
Terdengar lantunan yaa siin disekitarmu
Mengantarkan agar kedamaian bersamamu

Saat semua orang terlelap
Saat itu pula sambut kantuk untuk tidur panjangmu
Lalu menyapa mimpi abadi